Pages

Minggu, 23 April 2017

Sekresi Susu


Image result for susu




Susu dihasilkan dari kelenjar ambing ternak betina melalui serangkaian proses yang disebut sekresi. Ambing harus memiliki banyak jaringan sekresi agar dapat menghasilkan susu secara optimal. Jaringan sekresi dihubungkan oleh pembuluh darah vena dan arteri. Sekresi susu terjadi secara berkelanjutan dengan melibatkan darah sebagai prekusor pembuatan susu. Darah tersebut mengandung banyak nutrisi yang  berasal dari pakan ternak, sehingga susu yang disekresikan pun mengandung komposisi nutrisi yaitu air dan total solid yang meliputi protein (kasein, laktalbumin dan laktoglobulin), karbohidrat susu (laktosa), lemak serta vitamin dan mineral. Ternak yang mengalami kebuntingan akan menghasilkan hormon estrogen dan progesteron untuk merangsang perkembangan kelenjar mamae. Pada saat kelahiran proses laktogenesis atau sekresi susu berlangsung dengan melibatkan hormon oxytocin. Sekresi susu diawali di alveolus yang merupakan unit-unit sekretori berbentuk seperti anggur. Selanjutnya nutrisi-nutrisi pakan dalam darah akan diserap oleh lumen dan disintesis menjadi susu, kemudian ditampung di dalam gland cistern.
Proses sekresi pertama kali pada kelenjar ambing akan menghasilkan cairan kolostrum. Cairan tersebut berwarna kuning kental yang bermanfaat untuk anak ternak yang baru lahir sebagai nutrisi untuk menjaga kekebalan tubuh. Proses pengeluaran susu dari kelenjar ambing memerlukan rangsangan pada sistem syaraf. Rangsangan pada sistem syaraf tersebut memacu pelepasan hormon reproduksi yang dihasilkan dari hipotalamus dan hipofisa. Hipotalamus akan merangsang kelenjar pituitary untuk melepaskan hormon oxytocin ke dalam pembuluh darah. Hormon ini menyebabkan sel myoepithel yang mengelilingi alveolus berkontraksi sehingga air susu akan mengalir dari lumen menuju ke saluran air susu. Aliran susu yang besar melalui pembuluh darah akan menyebabkan ambing menjadi penuh dan kencang. Proses tersebut terus berlangsung hingga terjadi milk let down atau lepasnya susu. Milk let down terjadi akibat adanya stimulus berupa tekanan seperti pemerahan dan pedet yang ingin menyusu serta stimulus suhu berupa basuhan air hangat, pada saat itu air susu dapat keluar melalui streak canal (puting). Untuk mempertahankan kontinuitas sekresi susu, susu yang telah disekresikan harus dikeluarkan secara periodik dan harus diperah sampai habis karena untuk menjaga tekanan intramamari. Komposisi dan produksi susu bervariasi tergantung dari bangsa ternak, serta dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan dan psikologis dalam masa laktasi. Sapi perah akan mencapai kinerja yang maksimal pada lingkungan yang memadai dimana mereka merasa nyaman. Sistem pemerahan, proses pemerahan, serta adanya aktifitas manusis di sekitar ternak dapat memicu terjadinya stress dan proses pengeluaran susu akan terhambat. 


DAFTAR PUSTAKA


Maynard, L. A. and J. K. Loosli. 1969. Animal Nutrition 6th Ed. McGraw-Hill. New Delhi.

Suprayogi, A., H. Latif dan A. Y. Ruhyana. 2013. Peningkatan produksi susu sapi perah di peternakan rakyat melalui pemberian katuk IPB3 sebagai aditif pakan. J. Ilmu Pertanian Indonesia 18 (3): 140 – 143.

Szentléleki, A., K. Nagy, K. Széplaki, K. Kékesi and J. Tőzsér. 2015. Behavioural responses of primiparous and multiparous dairy cows to the milking process over an entire  lactation. J. Animal Science 15 (1): 185–195.

Tyler, H. D and M. E. Ensminger. 2006. Dairy Cattle Science 4th Ed Pearson. Education Inc. Upper Saddle River, New Jersey.

Watters, R. D.,   N.  Schuring, H. N.  Erb, Y. H.  Schukken and D . M.  Galton. 2011. The effect of premilking udder preparation on Holstein cows milked 3 times daily. J. Dairy Sci. 95: 1170–1176.
 

0 komentar:

Posting Komentar