Susu dihasilkan dari
kelenjar ambing ternak betina melalui serangkaian proses yang disebut sekresi. Ambing
harus memiliki banyak jaringan sekresi agar dapat menghasilkan susu secara optimal.
Jaringan sekresi dihubungkan oleh pembuluh darah vena dan arteri. Sekresi susu
terjadi secara berkelanjutan dengan melibatkan darah sebagai prekusor pembuatan
susu. Darah tersebut mengandung banyak nutrisi yang berasal dari pakan ternak, sehingga susu yang
disekresikan pun mengandung komposisi nutrisi yaitu air dan total solid yang
meliputi protein (kasein, laktalbumin dan laktoglobulin), karbohidrat susu
(laktosa), lemak serta vitamin dan mineral. Ternak yang mengalami kebuntingan akan
menghasilkan hormon estrogen dan progesteron untuk merangsang perkembangan
kelenjar mamae. Pada saat kelahiran proses laktogenesis atau sekresi susu berlangsung
dengan melibatkan hormon oxytocin. Sekresi susu diawali di alveolus yang
merupakan unit-unit sekretori berbentuk seperti anggur. Selanjutnya
nutrisi-nutrisi pakan dalam darah akan diserap oleh lumen dan disintesis
menjadi susu, kemudian ditampung di dalam gland
cistern.
Proses
sekresi pertama kali pada kelenjar ambing akan menghasilkan cairan kolostrum.
Cairan tersebut berwarna kuning kental yang bermanfaat untuk anak ternak yang
baru lahir sebagai nutrisi untuk menjaga kekebalan tubuh. Proses pengeluaran
susu dari kelenjar ambing memerlukan rangsangan pada sistem syaraf. Rangsangan
pada sistem syaraf tersebut memacu pelepasan hormon reproduksi yang dihasilkan
dari hipotalamus dan hipofisa. Hipotalamus akan merangsang kelenjar pituitary
untuk melepaskan hormon oxytocin ke dalam pembuluh darah. Hormon ini
menyebabkan sel myoepithel yang mengelilingi alveolus berkontraksi sehingga air
susu akan mengalir dari lumen menuju ke saluran air susu. Aliran susu yang
besar melalui pembuluh darah akan menyebabkan ambing menjadi penuh dan kencang.
Proses tersebut terus berlangsung hingga terjadi milk let down atau lepasnya susu. Milk let down terjadi akibat adanya stimulus berupa tekanan seperti
pemerahan dan pedet yang ingin menyusu serta stimulus suhu berupa basuhan air
hangat, pada saat itu air susu dapat keluar melalui streak canal (puting). Untuk mempertahankan kontinuitas sekresi
susu, susu yang telah disekresikan harus dikeluarkan secara periodik dan harus
diperah sampai habis karena untuk menjaga tekanan intramamari. Komposisi dan
produksi susu bervariasi tergantung dari bangsa ternak, serta dipengaruhi juga
oleh faktor lingkungan dan psikologis dalam masa laktasi. Sapi perah
akan mencapai kinerja yang maksimal pada lingkungan yang memadai dimana mereka
merasa nyaman. Sistem pemerahan, proses pemerahan, serta adanya aktifitas manusis
di sekitar ternak dapat memicu terjadinya stress dan proses pengeluaran susu
akan terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Maynard, L. A. and J. K. Loosli. 1969.
Animal Nutrition 6th Ed. McGraw-Hill. New Delhi.
Suprayogi, A., H. Latif dan A. Y.
Ruhyana. 2013. Peningkatan produksi susu sapi perah di peternakan rakyat
melalui pemberian katuk IPB3 sebagai
aditif pakan. J. Ilmu Pertanian Indonesia 18 (3): 140 – 143.
Szentléleki, A., K. Nagy, K. Széplaki,
K. Kékesi and J. Tőzsér. 2015. Behavioural responses of primiparous and
multiparous dairy cows to the milking process over an entire lactation. J. Animal Science 15 (1): 185–195.
Tyler, H. D and M. E. Ensminger. 2006.
Dairy Cattle Science 4th Ed Pearson. Education Inc. Upper Saddle
River, New Jersey.
Watters, R. D., N.
Schuring, H. N. Erb, Y. H. Schukken and D . M. Galton. 2011. The effect of premilking udder
preparation on Holstein cows milked 3 times daily. J. Dairy Sci. 95: 1170–1176.



